July 3rd, 2008
 
Kawans, untuk kali ke dua G-walk Festival, sebuah festival kesenian yang diselenggarakan di kawasan CitraRaya Surabaya bakal digelar Juli ini.
Tahun ini akan ada lomba foto sebagai berikut:
Thema Lomba:
“ SEMARAK G WALK FEST 2008 CITRARAYA SURABAYA â€
Tim Juri :
- Yuyung Abdi – Direktur Photography – Jawa Pos
- Mamuk Ismuntoro – Fotografer Profesional
- Agung Krisprimandoyo – Marketing Manager CitraRaya Surabaya
Syarat Kepersertaan & Jadwal Acara Lomba
1. Terbuka untuk umum, warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang tinggal di Indonesia yang terdaftar sebagai Peserta Lomba GWALK FEST 2008 CITRARAYA SURABAYA.
2. Membayar Biaya Pendaftaran : Rp. 75.000,- (tujuh puluh lima ribu rupiah)
Biaya sudah termasuk :
- Kaos “ GWALK FEST 2008†(design & made by DAGADU - Jogja) terbatas untuk 100 pendaftar pertama.
- Tanda Peserta
- Snack pada acara Workshop
3. Obyek Foto: Aktivitas pentas Seni G Walk Fest 2008 di CitraRaya Surabaya.
4. Tempat pemotretan : G Walk CitraRaya Surabaya.
5. Waktu Pemotretan : selama acara GWALK FEST 2008 tanggal 5 s/d 20 Juli 2008, dengan acara sbb :
- 5 Juli 2008 :
- 13:00 – 15:00 : Registrasi (harap membawa bukti pembayaran) & Workshop oleh Yuyung Abdi, topik “Festival Photography†Di Marketing Office CitraRaya Surabaya
- 15:00 - 21:00 : Hunting di area GWALK CitraRaya Surabaya (lihat detail acara)
- 6 ,12,13,19,20 Juli 2008 : Hunting di area GWALK CitraRaya Surabaya (lihat detail acara)
- 24 Juli 2008 : Pengumpulan hasil lomba di Marketing Office CitraRaya Surabaya
- 25 Juli 2008 : Penjurian
- 27 Juli 2008 : Pengumuman Pemenang di panggung GWALK FEST 2008
Hadiah Lomba Total Rp. 5juta :
Juara I : Uang tunai senilai Rp. 1.500.000,–
Juara II : Uang tunai senilai Rp. 1.000.000,–
Juara III : Uang tunai senilai Rp. 500.000,–
Juara Harapan : Uang tunai senlai @Rp. 250.000 untuk 2 (dua) pemenang
Hiburan : Uang tunai senilai @Rp. 100.000,- untuk 15 (lima belas) pemenang
informasi lengkap disiniÂ
Posted in Agenda | 6 Comments »
June 13th, 2008

Kunjungan ke kawah Ijen kali ini ditemani kawan-kawan mahasiswa Universitas Jember, Inu, Nuran dan Miko, ketiganya adalah pengelola penerbitan kampus Tegal Boto yang cukup terkenal di Jawa Timur. Usai diskusi fotojurnalistik sore harinya, malamnya kami meluncur ke arah Bondowoso. Perjalanan 2,5 jam yang cukup melelahkan dengan motor, mengingat kualitas jalan menuju kawasan Ijen yang rusak dan berdebu. Sampai di pondok kawasan Ijen pukul 11 malam. Sebuah kamar berukuran 4×3 meter dengan harga sewa 75 ribu semalam kami gunakan istirahat sebelum berangkat naik ke puncak Ijen dini harinya. Penerangan dalam kamar berlantai kayu hanya dua batang lilin yang diberikan petugas pondok.
Sekitar pukul 02.30, kami bangun dan segera bersiap menempuh jalan berkelok dan menanjak sejauh 3 km menuju puncak Ijen. Senter kecil untuk menerangi jalan tanah berkerikil sangat membantu perjalanan. Cukup melelahkan berjalan di pagi buta dengan udara dingin yang basah. Beberapa kali kami berhenti menarik nafas dan mereguk air putih. Lega rasanya ketika berpapasan dengan penambang, berarti kami sudah dekat dengan pos penimbangan. Perlu 1 kilometer lagi untuk sampai di puncak. Pukul 04.45 kami sampai di puncak Ijen dan masih cukup gelap untuk memotret. Bekal roti coklat lumayan membantu menambah tenaga pagi itu. Setengah jam kemudian saya dan Miko memutuskan untuk turun ke dekat penambang di bawah kawah dengan kedalaman kurang lebih 400 meter dari bibir gunung.Saat melintas di jalan setapak (jalur penambang), sangat disarankan mendahulukan penambang dengan beban 70 kg di pundaknya.
Para penambang memang memulai aktivitas di pagi buta. Benar yang dikatakan teman, bahwa pagi cukup aman bagi kita maupun penambang karena asap belerang masih terbawa angin ke arah danau.
Pukul 7 pagi, angin mulai berubah-ubah arah. Beberapa kali mesti menghirup asap belerang dan menahan pedih mata. Seorang penambang mengingatkan untuk tidak terlalu panik saat asap “menyerang”. Tutup hidung dan mulut. Bernafas pelan-pelan dan mencari tempat yang aman dari asap. Secara teori tidak mudah, karena saat terjebak asap, yang terlihat cuma “dinding putih’ dan dada yang sesak oleh asap. Namun bersikap lebih tenang cukup membantu agar kita bisa melewati masa kritis di kepungan asap belerang.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
June 12th, 2008

Peristiwa atau kejadian langsung (spot news) bisa saja terlihat di depan mata. Namun tidak semua orang punya kesiapan untuk memotret. Terutama saat kita tidak sedang membawa kamera. Ketenangan dibutuhkan untuk memotret kejadian seperti kebakaran, kerusuhan dan peristiwa lain yang melibatkan banyak massa. Jika tidak, fotografer biasanya hanya larut dalam histeria massa atau suasana kejadian yang membuat dirinya kehilangan ide dan kesempatan mengabadikan peristiwa yang cepat.
Wirawan Dwi, fotografer, baru saja memasuki kota Sidoarjo saat dirinya pulang bepergian dari Malang. Di kawasan jalan KH Mukmin, Sidoarjo, kerumunan massa menarik perhatiannya.”Kantuk saya segera hilang saat melihat keramaian di pinggir jalan”, kisahnya. Wirawan segera memotret dua pria diadili di pinggir jalan. Dua pria yang kemudian diketahui Wirawan adalah pencuri handphone itu kemudian diamankan oleh petugas polisi di sebuah kios hp.
Saat foto ini diperlihatkan, mata tertuju pada pria yang tertelungkup di jalan. Di sekelilingnya kerumunan orang mencoba merangsek dan tidak begitu jelas wajah mereka. sementara di tengah gambar, persis di atas pria yang tertelungkup seseorang terlihat melindunginya. Seseorang di tengah gambar yang terlihat bluring turut membangun cerita yang terasa tegang. Di gambar ini, beberapa elemen gambar( kerumunan orang dan pria di tengah) “bekerjasama” dengan baik sehingga menjadi foto tunggal yang menarik secara visual dan cerita.
Wirawan Dwi, fotografer, Humas Yayasan Dana Al-Falah Surabaya.
Posted in Journalism, Mata Indonesia, spot news | 2 Comments »
May 31st, 2008

                   Zakiah (kanan)/by m.ismuntoro
Zakiah (25), tersenyum lebar saat merendam kakinya di bak mandi. Bersama keponakannya, dirinya menikmati dinginnya air bak mandi di bawah terik matahari, di tengah reruntuhan rumahnya. Kurang lebih dua tahun lalu, sejak luapan lumpur panas Porong merangsek kampung halamannya, dia dan keluarganya harus mengungsi dan sampai kini tinggal di pengungsian pasar Baru Porong, Sidoarjo.
Kamis, 29 Mei lalu, setelah berziarah di makam keluarga yang juga tenggelam oleh lumpur, Zakiah berkunjung ke kampungnya di desa Renokenongo, Porong,Sidoarjo. Desa tempat dia tumbuh besar kini nyaris rata dengan tanah. Namun Zakiah masih ingat bagian-bagian rumahnya. “Rumah kami berdampingan dengan beberapa rumah keluarga lainnya. Jadi saya masih ingat betul”, kisahnya.

Seluruh bangunan rumah di desa itu memang telah ambruk, tanahnya kering dan sisa batu-bata bangunan rumah dimanfaatkan penduduk untuk dijual lagi ke pengepul. Jalanan desa, parit, sumur, sawah terendam lumpur. Jika tak awas berjalan, lumpur setengah kering bisa menenggelamkan kaki setinggi 40 cm.
Udara desa tak lagi segar karena bau belerang masih menyengat, namun kenangan beberapa saat di reruntuhan kampung halaman cukup membuat Zakiah senang.
teks/foto: Mamuk Ismuntoro Read the rest of this entry »
Posted in Daily Life, Journalism, Personal Project | 5 Comments »
May 29th, 2008

Jantung waktu bergerak menuju titik pusaran sejarah bangsa tengah Mei lalu. Di titik kulminasi tengah hari, halaman luas candi Bajang Ratu, Trowulan Mojokerto menjadi arena didengungkannya genderang peringatan Seabad Kebangkitan Nasional. Tambur dibunyikan, payung-payung meneduhkan konsentrasi peserta yang duduk di pinggir halaman candi atau di bawah pohon besar.

Sebuah ritus perjalanan menapak bumi Nusantara, Grebeg Aksara Prasada mengusung atribut-atribut kebangsaan bumi Nusantara. Ditandai pembacaan rajah Sunda, tembang Jawa dan disusul pembacaan Manggala kakawin Sutasoma & Negarakertagama dari Bali. Semangat kejayaan lokal lantas menggelora, menembus pusaran berabad lalu yang menjadikan Nusantara bersatu. Kesadaran akan kebesaran sebuah bangsa menusuk dada hingga secara bersama berjanji meneguhkan hati dan membangun komitmen baru untuk bangkit kembali dari keterpurukan negeri.

Kepingan-kepingan kejayaan Nusantara 7 abad lalu kembali digali lewat penyadaran budaya sendiri. Tari, tabuh,seruling dan gong serasa memecah kesunyian negeri yang telah lama beku oleh waktu.
teks/foto: Mamuk Ismuntoro
Posted in Featured, Journalism, Personal Project | 6 Comments »